Bio-Priming Benih Kedelai (Glycine Max (L.) Merrill) untuk Meningkatkan Mutu Perkecambahan

Theresa Dwi Kurnia Endang Pudjihartati Livia Trihanni Hasan

Abstract


Sifat benih kedelai dengan kandungan protein dan lemak tinggi menjadi penyebab benih kedelai cepat mengalami deteriorasi atau penurunan mutu benih. Salah satu cara untuk meningkatkan mutu perkecambahan adalah dengan perlakuan pemeraman atau bio-priming. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh bio-priming dalam meningkatkan mutu perkecambahan. Penelitian ini menggunakan benih kedelai kuning varietas Grobogan yang sudah disimpan selama tiga bulan. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dan data yang diperoleh dianalisis sidik ragam dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) taraf signifikansi 5%. Perlakuan dalam penelitian ini adalah: 1) Kontrol (K), 2) Priming (M) perlakuan matriks priming dengan memasukkan benih kedelai ke dalam media berupa arang sekam lembab dengan perbandingan benih : arang sekam : air = 3 : 10 : 3 (b/b/v), 3) Bio-priming menggunakan EM-4 (E) dengan cara merendam benih dalam larutan EM-4 0.3% selama satu jam, 4) Bio-priming menggunakan Trichoderma harzianum (T) yaitu priming benih dengan 75 g Trichoderma harzianum selama satu hari, dan 5) Bio-priming menggunakan EM-4 + Trichoderma harzianum (ET). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bio-priming dengan menggunakan EM-4 mampu memperbaiki viabilitas, vigor dan pertumbuhan kecambah kedelai, sedangkan bio-priming menggunakan Trichoderma harzianum tidak menunjukkan perbedaan nyata pada semua variabel pengamatan dibandingkan kontrol. Perlakuan bio-priming menggunakan kombinasi EM-4 dan Trichoderma harzianum cenderung menurunkan mutu perkecambahan kedelai dibandingkan kontrol.

Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.24002/biota.v1i2.992

Refbacks

  • There are currently no refbacks.