Makna Kultural Tradisi Marosok

Megasari Noer Fatanti, Nirwana Happy

Abstract


Marosok adalah tradisi perdagangan taranak yang dilakukan oleh panggaleh taranak di Minangkabau, Sumatera Barat. Keunikan tradisi ini terletak pada proses tawar-menawar harga melalui aktivitas gerakan tangan penjual dan pembeli yang dilaksanakan di bawah topi atau kain sarung. Tulisan ini menjelaskan prosesi, tujuan, serta makna tradisi Marosok. Peneliti menggunakan metode etnografi melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Marosok mengandung nilai-nilai seperti kerahasiaan, solidaritas, dan penjagaan harmoni melalui semangat raso jo pareso.

Keywords


Komunikasi Perspektif Asia, Makna kultural, Pengetahuan lokal, Marosok

Full Text:

PDF

References


Antoni. (2004). Riuhnya persimpangan itu: Profil dan pemikiran para penggagas kajian ilmu komunikasi. Solo: Tiga Serangkai.

Bakar, J, dkk. (1981). Sastra lisan Minangkabau. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayan.

Chu, G. (1985). In search of an Asian perspective of communication theory. Dalam AMIC-Thammasat University Symposium on Mass Communication Theory: the Asian Perspective, Bangkok, Oct 15-17, 1985. Singapore: Asian Mass Communication Research & Information Centre.

Chen, G. M. (2012). The development of chinese communication theories in global society. Dalam Symposium on Indigenous Scholarship: The Centrality of Culture and Indigenous Values. China Media Research, Vol. 8, No. 3 (2012): 1-10. Permalink: http://www.chinamediaresearch.net.

Dissanayake, W. (2003). Asian approaches to human communication: retrospect and prospect. Intercultural Communication Studies XII-4 2003. University of Hong Kong.

Fadli, M., Erwina, W., & Prahatmaja, N. (2012). Preservasi pengetahuan masyarakat Minangkabau tentang tradisi lisan pasamabahan melalui kegiatan exchange of indigenous knowledge. eJurnal Mahasiswa Universitas Padjadjaran Vo.1., No.1 (2012). Universitas Padjadjaran.

Djanaid, D. (2011). Manajemen dan leadership dalam budaya Minangkabau. Malang: UB Press.

Geertz, C. (2016). Tafsir kebudayaan. Depok: PT Kanisius.

Hakimy, I. (1978). 1000 pepatah-petitih-mamang-bidal-pantun-gurindam. Bandung: CV Rosda Bandung.

Hair, A. (2014). Taqiyyah, strategi komunikasi dalam penghindaran isolasi. Malang: Universitas Brawijaya.

Hobart, M. (2006). Introduction: Why is entertainment television in Indonesia important?. Asian Journal of Communication Vol. 16, No. 4, December 2006, pp. 343-351.

Miike, Y. (2002). Theorizing culture and communication in the asian context: An assumptive foundation. Intercultural Communication Studies XI-1 2002. University of New Mexico.

Miike, Y. (2007). An asiacentric reflection on eurocentric bias in communication theory. Communication Monographs, 74:2, 272-278, DOI: 10.1080/03637750701390093

Littlejohn, S. W & Foss, K. A. (2012). Teori komunikasi (edisi ke-9). Jakarta: Salemba Humanika.

Mulyana, D dan Jalaluddin Rakhmat (2001). Komunikasi antarbudaya: panduan berkomunikasi dengan orang-orang berbedaya budaya. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Mulyana, D. (2013). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Ndruru dan Roswita. (2013). Terjemahan istilah budaya dalam novel negeri 5 menara ke dalam Bahasa Inggris the land of five towers. Kajian Linguistik, Februari 2013, 1-16. Universitas Sumatera Utara.

Neuman, W. L. (2013). Metode penelitian sosial: pendekatan kualitatif dan kuantitatif (edisi ke-7). Jakarta: PT Indeks.

Pala, R. (2014). Teori kode-kode berbicara. INSANI, ISSN: 977-240-768-500-5-Vol. 1 No. 1 Desember 2014.

Philipsen, G., Coutu, L., & Covarrubias, P. (2005). Speech codes theory: restatement, revisions, and a response to criticisms. Dalam W. Gudykunst, Ed., Theorizing about communication and culture (55-68) - (Chapter 3). Thousand Oaks, CA: Sage.

Pujileksono, S. (2015). Metode penelitian komunikasi kualitatif. Malang: Kelompok Intrans Publishing.




DOI: https://doi.org/10.24002/jik.v16i2.1633

Refbacks

  • There are currently no refbacks.