PDF

G.A.P. Candra Dharmayanti, G.N.P. Sien Pramana
Abstract

Abstract: Previous research suggested that the implementation of OHS in building construction projects in Indonesia ranges from 30% - 80%.Priority analysis related to the constraints of the OHS implementation in the Indonesian construction, particulary in Bali, need to be conducted to minimize the level of workplace accidents. This study aimed to analyze and prioritize the barriers of the OHS implementation faced by the contractors in Bali. Data collection was carried-out using
a questionnaire survey distributed to the respondents that were selected based on purposive sampling. The criteria of respondents werethose who experienced onimplementing OHS on building construction projects in Bali. Data was analyzed using the Analytic Hierarchy Process (AHP) to determine the level of priority of the identified barriers. The results showed thatthe barriers to the OHS implementation, sorted from the main ones, namely: limited OHS funds (3,231), low priority of OHS implementation by the company management (2,020), low culture and discipline to implement OHS (1,031), lack of knowledge about OHS (0,725), weak supervision (0.478), low sanctions from companies (0.340), and contractors forced to work late at night (0.230).These barriers can be managed by high commitment of the contractor and the project owner to allocate health and
safety costs of the project in the phase of planning and construction, to improve safety culture by supervising and implementing sanctionto the indicipline workers that do not applypersonal protective equipment orsafety working procedure.

 

Abstrak: Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa penerapan SMK3 pada proyek konstruksi gedung di Indonesia tidak mencapai 100%, atau berkisar antara 30% - 80%. Analisis prioritas terkait kendala dalam penerapan SMK3 di dunia konstruksi perlu dilakukan untuk meminimalkan tingkat kecelakaan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memprioritaskan kendala pada penerapan SMK3 yang dihadapi oleh kontraktor. Pengumpulan data dilakukan
menggunakan kuesioner yang didistribusikan kepada responden yang dipilih berdasarkan purposive sampling dengan kriteria responden yang pernah menangani proyek konstruksi gedung yang menerapkan SMK3. Responden diambil dari kontraktor yang berlokasi di Bali. Analisis data dilakukan menggunakan Analytic Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan tingkat prioritas/kepentingan dari kendala yang teridentifikasi. Hasil analisis menunjukkan nilai prioritas jenis kendala
pada penerapan SMK3 yang diurutkan dari yang paling utama yaituterbatasnya dana K3 (3,231), rendahnya prioritas K3 oleh manajemen perusahaan (2,020), rendahnya budaya dan disiplin K3 (1,031), kurangnya pengetahuan mengenai K3 (0,725), lemahnya pengawasan (0,478), lemahnya penerapan sanksi dari perusahaan (0,340), dan kontraktor memaksakan bekerja sampai larut malam (0,230). Untuk mengatasi hambatan ini, diperlukan komitmen yang tinggi dari
kontraktor dan pemilik proyek untuk mengalokasikan biaya K3 proyek pada tahap perencanaan dan konstruksi, meningkatkan budaya keselamatan dengan meningkatkan pengawasan penggunaan APD dan memberikan sanksi pada pekerja yang tidak bekerja sesuai prosedur keselamatan kerja.

References

Adawiah, R. dan Mardiyono, M. I. I. (2010). Work

Protection for Female Labors (A Study on the Implementation of the Policy of Job Safety and Health at the PT. Sarikaya Sega Utama in Banjarbaru, South Kalimantan), Tesis, Program Pasca Sarjana, Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Malang.

Basri, A. A. (2008). Simulation Safety Management

of IBS Construction, A project report submitted in partial fulfilment of the requirements for the award of the degree of Master of Science (Construction Management), Faculty of Civil Engineering Universiti Teknologi Malaysia.

Juliantina, I. dan Nujhani, J. (2013). “Evaluasi Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Dan

Kesehatan Kerja (SMK3) pada Proyek Persiapan

Lahan Pusri IIB PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang”, Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan, Universitas Sriwijaya. Vol. 1, No. 1, 80-85.

Kurniawan, Y. (2015). “Tingkat Pelaksanaan Sistem

Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) Pada Proyek Konstruksi (Studi Kasus: Kota Semarang)”. Jurnal Scaffolding, Vol. 4, No. 1, 98 – 103.

Pratasis, P. (2011). “Strategi Peningkatan Implementasi Keselamatan Dan kesehatan Kerja

Pada Perusahaan jasa Konstruksi Di Propinsi Sulawesi Utara”. Jurnal TEKNO-SIPIL, Vol. 09, No. 56, 34 – 38.

Pitoko, R.A. (2018). Pemerintah Minta Kontraktor

Bekerja Sesuai Kemampuan. Kompas.com

(https://properti.kompas.com/read/2018/03/01

/080000821/pemerintah-minta-kontraktor-bekerja-sesuai-kemampuan).

Rifandy, A. (2010). Pengelolaan K3 Pada Industri

Pertambangan. (https://edoc.tips/download/pengelolaan-k3- tambang_pdf).

Saaty, T.L. (2008). “Decision Making with The

Analytics Hierarchy Process”. Int. J. Services Sciences, Vol. 1, No. 1, 2008.

Salasa, B. S. (2015). Pengaruh Kebijakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Terhadap

Kinerja Karyawan Proyek Konstruksi pada

PT. Tatamulia Nusantara Indah, Skripsi Teknik

Sipil, Univeritas Udayana.

Sudjana, I.P. 2006. “Hambatan Dalam Penerapan

K3 Dan Ergonomi Di Perusahaan”. Makalah,

Seminar Ergonomi dan K3, Surabaya.