OMAH DUDUR: OMAH RATU – KAWULA YANG HIDUP DI WILAYAH URUT SEWU, GRABAG, PURWOREJO, JAWA TENGAH

Satrio HB Wibowo, Sudaryono Sudaryono, E Pradipto

Abstract


Abstract: Omah dudur is a typical house of rural community in the region of Urut Sewu, Grabag, Purworejo district. Omah dudur originated from the kingdom of Mataram Yogyakarta as a queen house, joglo-shaped and serves as a main pendapa. In the area of the Urut Sewu, the form of joglo omah dudur is imitated and renamed dudur, transformed into a typical rural dwelling as a pendapa and a family home (sleeping area, family room), but still predicated as queen house. Residents of Urut Sewu believe there is a revelation (soul / spirit) that dwells in the omah dudur and makes it live. Omah dudur in the Urut Sewu area is a traditional Javanese architectural heritage, yet it is still hidden and has not been recorded and recognized in Javanese Traditional architecture science. The condition of omah dudur in the modern era is faced with modernization, its development is stagnant and endangered. This research is part of the exploration of knowledge of omah dudur to become science of architecture. The methods used are naturalistic (Lincoln and Guba, 1985) and Qualitative Inductive Methods of Phenomenology. This research produces the concept of omah dudur as omah ratu kawula, that is omah dudur as omah for queen and kawula and as life artifact. Omah dudur alive because of the soul / spirit that lives in omah dudur. The Life Omah dudur is omah dudur which has dignified and influential to good or bad life of the inhabitants.

Keywords: Urut Sewu region, dudur house, joglo, wahyu , living queen-kawula house

Abstrak: Omah dudur merupakan bentuk rumah khas masyarakat pedesaan di wilayah Urut Sewu, kecamatan Grabag, kabupaten Purworejo. Omah dudur berasal dari kerajaan Mataram Yogyakarta sebagai rumah ratu, berbentuk joglo dan berfungsi utama sebagai pendapa. Di wilayah Urut Sewu, bentuk joglo omah dudur ditiru dan diganti nama menjadi dudur, berubah menjadi hunian rakyat pedesaan khas berfungsi sebagai pendapa dan rumah keluarga (ruang tidur, ruang keluarga), namun tetap berpredikat sebagai rumah ratu. Warga Urut Sewu percaya ada wahyu (nyawa/sukma) yang tinggal (menetap) di dalam omah dudur dan menjadikannya hidup. Omah dudur di wilayah Urut Sewu adalah warisan arsitektur tradisional Jawa, namun masih tersembunyi dan belum tercatat dan diakui dalam ilmu pengetahuan arsitektur Tradisional Jawa. Kondisi omah dudur dalam era modern berhadapan dengan modernisasi, perkembangannya stagnan dan terancam punah. Penelitian ini bagian dari eksplorasi mengungkap pengetahuan omah dudur agar menjadi ilmu pengetahuan arsitektur. Metode yang digunakan adalah naturalistik (Lincoln dan Guba, 1985) dan metode Induktif Kualitatif Fenomenolgi . Penelitian ini menghasilkan konsep omah dudur sebagai omah ratu kawula yang hidup, yaitu omah dudur sebagai omah bagi ratu dan kawula dan artefak hidup. Omah dudur hidup karena sukma/nyawa yang hidup dan manggon dalam diri omah dudur. Omah dudur hidup adalah omah dudur yang berwibawa dan berpengaruh terhadap baik buruk kehidupan penghuni.

Kata Kunci: Wilayah Urut Sewu, omah dudur, joglo, wahyu , omah ratu-kawula yang hidup.


Keywords


Urut Sewu region, dudur house, joglo, wahyu , living queen-kawula house, omah dudur, joglo, wahyu , omah ratu-kawula yang hidup.

References


Claude, D. J. 1999. Traditional Architecture of The Tembe. The Journal of Architecture, 4, 281–295.

Idham, N. C., Numan, I., & Mohd, M. 2010. Changes Of Quality In Javanese House. Open House International Journal, 35, 15–26.

Ismunandar. 1993. Joglo Arsitektur Rumah Tradisional Jawa (Keempat). Semarang: Dahara Prizel.

Ivkovska, V. 2016. Field Report Reinventing Vernacular Traditions to Reveal National Identity?: A Case Study of the “ Macedonian Village .” TDSR Journal, 27, 71–83.

Lincoln, Y. S., & Guba, E. G. 1985. Naturalistic Inquiry. South Beverly Drive Beverly Hills: Sage Publications, Baverly Hill, London, New Delhi.

Maer, B. W., & Pudjisuryadi, P. 2015. Santen-fuse As Anearthquake Damper For Pendopo Joglo. DIMENSI - Journal of Architecture and Built Environment, 42(1), 1–8.

Oktay, M., & Dincyurek, O. 2008. Interrogating Place And Identity?: The Influences Of Imported Cultures On Local Traditonal Architecture Of Cyprus.

International Association for the Study of Traditional Environments, 20(1, Interrogating Tradittion), 40–41.

Orbita, G. I. C. 2012. Tata Ruang dan Elemen Jawa Di Yogyakarta Sebagai Wujud Kategori Pola Aktifitas Dalam Rumah Tangga. Jurnal Arsitektur Komposisi, 10(2), 103–118.

Purwanto, L. M. F. 2006. Pengaruh Bentuk Atap Bangunan Tradisional Termal Bangunan ( Sebuah pencarian model arsitektur tropis untuk aplikasi desain arsitektur ), Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur 34(2), 154–160.

Reksodihardjo, S., Sudibyo, I., W.E, S., Abu, R., &

Dakung, S. 1981/1982. Arsitektur Tradisional Daerah Jawa Tengah. Semarang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Jawa Tengah.

Wibowo, S.H.B, Sudaryono, & E.Pradipto. 2017. Revealing Trancendental Meaning Of Omah Dudur Architecture In Urut Sewu, Grabag, Purworejo, Central Java, Indonesia. Ilsivas International Journal, 2(1), 23–33.

Wibowo, S. H. B., Sudaryono, & E. Pradipto, E. 2016. Paradigma dan Metode Naturalistik. Yogyakarta. International Seminar In Architecture And Planning: Evolution Of Research Methods In Architecture And Planning

Wibowo, S. H. B., Sudaryono, & E. Pradipto. 2016. Transcendental In Omah Dudur. Prosiding Is LIvas: Applying Local Knowledge For Livable Space, 29–41.


Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.