PERUBAHAN MORFOLOGI KAWASAN DUSUN SUKUNAN DI YOGYAKARTA

Kuri Alfred Sampari Amsamsyum

Abstract


Abstract: Sukunan village officially became "Kampung Wisata Lingkungan" on January 19, 2009. Morphology changes Sukunan village continues from 2003 until 2015. Research on Sukunan village is very useful to know how the morphological changes in Sukunan village and what factors are influential. The method used in this research is analytical descriptive with qualitative approach through field observation, documentation, depth interview, area mapping and literature study. Analysis method used tissue analysis method to find the morphological changes of Sukunan village. Researchers found that morphological changes were influenced by increasing numbers of inhabitants coupled with the number of new buildings increasing randomly in all directions and irregular and causing narrowing of farmland. In addition, the number of tourist visits increased from 2010 to 2015 leading to new economic growth in Sukunan village which was seen in the addition of new buildings in the form of kiosks, shops and other commercial buildings, including the addition of public buildings supporting village tourism activities.

Keyword: morfology, Sukunan village, population increase, tourism activities

Abstraksi: Dusun Sukunan resmi menjadi "Kampung Wisata Lingkungan" pada tanggal 19 Januari 2009. Perubahan Morfologi dusun Sukunan terus berlangsung dari tahun 2003 sampai tahun 2015. Penelitian pada dusun Sukunan sangat bermanfaat untuk mengetahui bagaimana perubahan morfologi pada dusun Sukunan dan faktor-faktor apa yang berpengaruh. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah deskriptif analitis dengan pendekatan kualitatif melalui observasi lapangan, dokumentasi, wawancara mendalam, pemetaan kawasan dan studi kepustakaan. Metode Analisis digunakan metode analisis tissue untuk menemukan perubahan morfologi dusun Sukunan. Peneliti menemukan perubahan morfologi dipengaruhi oleh jumlah penduduk yang meningkat dibarengi dengan jumlah bangunan baru bertambah secara acak ke segala arah dan tidak beraturan dan menyebabkan penyempitan lahan hunian. Selain itu, jumlah kunjungan wisata meningkat dari tahun 2010 sampai tahun 2015 menyebabkan pertumbuhan ekonomi baru di dusun Sukunan yang terlihat pada tambahnya bangunan-bangunan baru berupa kios, toko dan bangunan komersil lainnya, termasuk penambahan bangunan publik pendukung aktifitas wisata dusun.

Kata Kunci: morfologi, dusun Sukunan, pertumbuhan penduduk, aktifitas wisata.


Keywords


morfology, Sukunan village, population increase, tourism activities, morfologi, dusun Sukunan, pertumbuhan penduduk, aktifitas wisata.

References


Arikunto, S. (2002). Metodologi Penelitian. PT. Rineka Cipta.

Darmawan, E. 2006. Teori dan Kajian Ruang Publik Kota. Semarang: Universitas Diponegoro.

Gallion, & Eisner. (1992). Pengantar Perancangan Kota. Edisi kelima. Jakarta.

Hidayatun, M. I. (2004). Pengaruh Tatanan Masyarakat Terhadap Tata Ruang Kota. . Surabaya: Fakualtas Psikologi. Universitas Petra Surabaya.

Kitson, & Carrol. (2006). Productivity Commision Report on Conservation of Australia's Historic Heritage Places. Belconen: Heritage Inquiry.

Nuryanti, W. (1993). Desa Wisata. Concept, Perspective and Challenge. Yogyakarta : .

Peraturan Menteri PU No.05/PRT/M/. (2008). Pedoman Penyediaan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan.

Peraturan Menteri PU No.45/PRT/M/. (2007). Pedoman Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara

Shirvani, H. (1985). Element of Urban Design Process. New York: Van Nostrand Reinhold Company.

Scoones, Ian. (1998). Sustainable Rural Livelihoods : A Framework for Analysis, IDS Working Paper 72.

Trancik, R. (1986). Finding Lost Space : Theories of Urban Design. . New York. .

Tedjo, (2016) Wawancara Tentang Budaya Dusun Sukunan dan Bangunan Bersejarah. Yogyakarta

Undang Undang No.26. (tahun 2007 Pasal 17). tentang Penataan Ruang.

Zahnd, Markus. 1999. Perancangan Kota Secara Terpadu. Penerbit Kanisius: Yogyakarta.


Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.