Zombie Scrolling Syndrome: Mengapa Gen Z Sulit Lepas Dari Infinite Scrolling
DOI:
https://doi.org/10.24002/konstelasi.v5i2.11315Keywords:
zombie scrolling syndrome, generasi z, media sosial, infinite scroll, fenomenologiAbstract
Generasi Z adalah kelompok sangat aktif di media sosial, rata-rata 6,6 jam sehari, menjadikan scrolling aktivitas dominan mereka. Fitur infinite scroll telah meningkatkan keterlibatan generasi Z tanpa sadar dan memicu Zombie Scrolling Syndrome (ZSS). Meskipun studi sebelumnya telah meneliti kebiasaan scrolling umum, tetapi diskusi tentang ZSS pada generasi Z kurang dieksplorasi. Penelitian ini, oleh sebab itu, bertujuan menggali faktor psikologis dan sosial ZSS serta strategi dalam mengatasinya. Guna mencapai tujuan tersebut, studi ini menerapkan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, yaitu melakukan wawancara mendalam kepada lima generasi Z yang terpapar ZSS. Hasil dari analisis terhadap data menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) mengungkap bahwa scrolling sering menjadi mekanisme koping stres atau penghindar tugas. Namun, mekanisme ini berdampak negatif pada kesejahteraan generasi Z, antara lain gangguan tidur, kelelahan emosional, dan gangguan kognitif. Faktor sosial seperti FOMO dan tekanan personal branding juga memengaruhi kebiasaan generasi Z secara bervariasi antar individunya. Meskipun fitur untuk membatasi generasi Z dalam penggunaan layar dan control terhadap akses sanggup menawarkan solusi jangka pendek, tetapi dorongan dari dalam pribadi dan self-awareness generasi Z akan menjadi dorongan yang berkelanjutan bagi perubahan perilaku Gen Z. Temuan ini menyoroti perlunya intervensi tiap pribadi untuk menggalakkan digital engagement yang lebih sehat dan membangun.








