UNSUR – UNSUR BANGUNAN PEMBENTUK KARAKTER ARSITEKTURAL PADA KOMPLEKS GEREJA KATEDRAL BOGOR

Authors

  • Emmelia Tricia Herliana Universitas Atma Jaya Yogyakarta Jl. Babarsari 44 Yogyakarta

DOI:

https://doi.org/10.24002/jars.v10i6.1099

Keywords:

building elements, visual linkages elements, the architectural character, unsur-unsur bangunan, unsur pengikat visual, karakter arsitektural

Abstract

Abstract: Cathedral Church in Bogor is built in 1896 by M. Y. D. Classens, a Dutch Catholic missionary. According to Heritage Building Policy set by the Ministry of Tourism and Culture Republic of Indonesia No. PM.26/PW.007/MKP/2007 dated on March 26th, 2007, this building was formally determined as a heritage building (Bureau of Information, Tourism, and Culture of Bogor City, 2008). In accordance to the increasing number of members of Catholic beliefers in Bogor, there is a need to build new buildings with various purposes to accomodate the variety of activities. They are the buildings of Parish of Cathedral Church in Bogor and the Center of Council of Bogor Diocese. Brolin (1980) said that new building should be fit with the old and strengthen the uniqueness of former architectural character. The purpose of this paper is describing building elements which determine architectural characteristics as a visual linkages elements of building masses surround Cathedral Church in Bogor. Method used are direct observation. Firstly, observing building elements which have significant architectural character of the old buildings. Secondly, comparing building elements between the old buildings and new buildings. The result shows that the elements of new buildings strengthen the character of the old ones, therefore the architectural character of this religious environment has been maintained.

Keywords: building elements, visual linkages elements, the architectural character

Abstrak: Gereja Katedral Bogor dibangun pada tahun 1896 oleh M. Y. D. Classens, seorang misionaris Katolik Belanda. Bangunan ini telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya dalam Surat Penetapan Bangunan Cagar Budaya dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia Nomor: PM.26/PW.007/MKP/2007 tanggal 26 Maret 2007 (Dinas Informasi, Kepariwisataan, dan Kebudayaan Kota Bogor, 2008). Dalam perkembangannya, sesuai dengan peningkatan jumlah umat Katolik di Bogor dan kebutuhan untuk mewadahi kegiatan yang lebih beragam di dalam kompleks Gereja Katedral Bogor, maka dibangun bangunan-bangunan pelengkap, yaitu Gedung Paroki Katedral Bogor dan Gedung Pusat Pastoral Keuskupan Bogor. Brolin (1980:17) menyebutkan bahwa bangunan baru yang dibangun dalam konteks lingkungan bangunan lama hendaknya selaras dengan lingkungannya dan tidak mengorbankan keunikan karakter bangunan lama. Studi ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menguraikan unsur-unsur bangunan pembentuk karakter arsitektural yang menjadi unsur pengikat visual dari kelompok massa bangunan yang terdapat di dalam kompleks Gereja Katedral Bogor. Metode yang digunakan adalah dengan pengamatan langsung unsur-unsur bangunan yang terdapat pada bangunan lama yang memiliki karakter arsitektural dominan, yaitu unsur-unsur pada bangunan Gereja Katedral Bogor dan bangunan Seminari Menengah Stella Maris, serta membandingkannya dengan unsur-unsur pada bangunan yang relatif baru, yaitu Gedung Paroki Katedral Bogor dan Gedung Pusat Pastoral Keuskupan Bogor. Hasil yang didapatkan adalah bahwa unsur-unsur yang terdapat pada bangunan yang relatif baru memperkuat unsur-unsur yang terdapat pada bangunan lama, sehingga karakter arsitektural pada kompleks Gereja Katedral Bogor tetap terjaga.

Kata kunci: unsur-unsur bangunan, unsur pengikat visual, karakter arsitektural

References

Alputila, C. E., 2009, Gaya Bangunan Gereja Santa Perawan Maria di Bogor, (Online), (http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/127208-RB03C165g-Gaya%20bangunan-Analisis.pdf, diunduh tanggal 11 April 2013).

Brolin, B. C., 1980, Architecture in Context: Fitting New Buildings with Old, New York: Van Nostrand Reinhold Company.

Dinas Informasi, Kepariwisataan, dan Kebudayaan Kota Bogor, 2008. Bangunan Cagar Budaya Kota Bogor. Bogor: Dinas Informasi, Kepariwisataan, dan Kebudayaan Kota Bogor.

Hedman, R. & Jaszewski, A., 1984, Fundamentals of Urban Design, Washington, D.C.: Planners Press, American Planning Association.

Herliana, E. T. 2000. Sensasi Bunyi sebagai Stimulus pada Proses Perancangan Arsitektur. Tesis Magister tidak diterbitkan. Bandung: Program Studi Arsitektur, Program Pasca Sarjana Institut Teknologi Bandung.

Herliana, E. T. 2010. Sensasi Bunyi sebagai Stimulus Pendekatan Perancangan Arsitektur melalui Interpretasi Konseptual terhadap Karakteristik Musik Liturgi, Jurnal Arsitektur Komposisi, 8 (1): 51-74.

Herliana, E. T. 2012. Analogi Musik – Arsitektur melalui Proses Transformasi pada Simulasi Perluasan gereja Katedral Bogor, Jurnal Arsitektur Komposisi, 10 (1):57 – 76.

Herliana, E. T. 2013. Menciptakan Kesinambungan Visual antara Bangunan Lama dan Baru Secara Kontekstual di dalam Lingkungan Gereja Katedral Bogor. Dalam Proceedings of the National Seminar on Sustainable Culture, Architecture, and Nature 4: Stone, Steel, and Straw. Yogyakarta: Programme of Study in Architecture, Faculty of Engineering, Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Nelson, L. H., FAIA., 1982, Architectural Character: Identifying the Visual Aspects of Hostorical Buildings as an Aid to Preserving Their Character, (Online), (http://www.oldhousejournal.com/npsbriefs2/brief17.shtml, diunduh tanggal 10 Agustus 2012).

Downloads

Published

2017-05-01