Analisis Inovasi pada Aspek Pariwisata, Bisnis, dan Budaya di Desa Wisata Dusun Petung

Isi Artikel Utama

Samuel Lyvio
Christian Santo
IGN Adhitya Wicaksana
Aaron Desvara Axelandra

Abstrak

Penelitian ini berfokus pada bagaimana inovasi yang muncul untuk memajukan usaha desa wisata oleh warga Dusun Petung dalam aktivitas keseharian dan pengelolaan desa dalam aspek pariwisata, bisnis, dan budaya. Dusun Petung merupakan dusun yang terletak di Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Penghuni dusun ini mengalami relokasi pasca erupsi Merapi di tahun 2010. Para warga dusun terpaksa untuk merintis ulang kehidupan baru di hunian tetap yang saat ini terletak sekitar tiga kilometer ke arah selatan dari hunian lama salah satunya dengan mengusung bisnis desa wisata edukasi bencana. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk menjelaskan inovasi yang ada pada aspek pariwisata, bisnis, dan budaya. Data dikumpulkan sejak bulan Oktober hingga Desember 2025. Metode pengumpulan data pertama melalui observasi pada tata letak dalam wilayah dusun, observasi pada lokasi-lokasi kegiatan warga desa dan observasi pada berbagai destinasi wisata di sekitar wilayah dusun. Metode pengumpulan data kedua melalui wawancara mendalam dengan warga, antara lain petani, peternak, pengusaha kopi, serta dengan pengelola desa wisata. Kerangka teoritik yang digunakan adalah konsep inovasi dari (Maria Ulfa Batoebara, 2021). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan Desa Wisata Edukasi Bencana Petung ditopang oleh berbagai bentuk inovasi pada aspek pariwisata, bisnis, dan budaya sebagai respons terhadap keterbatasan sumber daya serta dinamika sosial pasca erupsi Merapi 2010. Pada aspek pariwisata, inovasi tercermin melalui pengelolaan aktivitas wisata yang fleksibel dan berbasis pada keseharian masyarakat, termasuk munculnya paket edukatif baru berupa kegiatan menanam sayuran dan budidaya lele yang ditujukan bagi anak TK dan SD. Dari aspek bisnis, pengelola menerapkan inovasi pemasaran melalui pemanfaatan media sosial Instagram serta sistem fleksibilitas paket dan harga yang disesuaikan dengan anggaran wisatawan, sebagai strategi adaptif untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Sementara itu, pada aspek budaya, inovasi diwujudkan melalui integrasi gamelan ke dalam paket wisata, transformasi pertunjukan dari wayang kulit menjadi wayang orang, serta pemindahan lokasi latihan ke balai desa guna mendukung keberlanjutan dan aksesibilitas budaya, meskipun masih dihadapkan pada tantangan serius berupa rendahnya regenerasi generasi muda.

Rincian Artikel

Bagian
Articles